Profil Erlanto Wijoyono

  • Whatsapp

Elanto Wijoyono, 32, warga Condong Catur Sleman Yogyakarta dunia maya menghebohkan karena tindakan nekatnya untuk menghentikan konvoi mesin besar di Yogyakarta pada Sabtu 15 Agustus, 2015.

Elanto sebenarnya sebagai aktivis di banyak proyek ‘Ora Jogja didol, Pemberdayaan Citizen komitmen dikenal. Proyek ini merupakan gerakan sosial yang mencakup banyak jalan Community. Seniman di Yogya, kelompok seni jalanan, pengendara sepeda, aktivis lingkungan.

Gerakan dari berbagai komunitas. Menyoroti berbagai hal. Dari pembangunan merajalela hotel, sistem bobrok pemerintahan, bangunan komersial karena kekeringan, fungsi ruang publik, yang menghilang di Yogya. “Ini seperti sebuah organisasi tanpa bentuk, menanggapi setiap pertanyaan yang tidak akan pergi dengan aturan,” kata Elanto tertawa saat ia menjelaskan kepada masyarakat ihwal kecepatan pada hari Minggu 16 Agustus 2015

Tanpa bentuk atau organisasi OTB itu sendiri adalah sebuah konsep yang populer di masa lalu, mengacu pada sebuah gerakan yang menjadi awal dari musuh rezim orde baru. Di Yogya, gerakan Elanto dan teman-temannya sebelum bergulir sejak 2011. Sebagai contoh, jika tindakan mengkritik Walikota Yogya Haryadi Suyuti pada 2013 dan bahwa pembangunan ratusan hotel baru untuk mengabaikan di Yogya dan ruang publik. Kritik gerak adalah “masalah Ora Har!”.

Cs Elanto langkah-langkah lain terhadap pemberian Tanah Negara untuk iklan, judul “Ora Jogja didol”. Pada saat itu masyarakat Elanto diisi dinding iklan komersial dengan lukisan grafiti digunakan ruang publik.

Elanto kemudian survei rajin dan melaporkan pemerintah kota Yogyakarta yang menghancurkan warisan budaya bangunan tionghoa di kawasan Malioboro dengan pembangunan hotel bintang empat. Elanto tindakan berhasil, daerah Ombudsman memaksa hotel dan pemerintah kota untuk membangun kembali bangunan budaya hancur lagi.

Baca Juga :   Panasnya Aroma Persaingan di Tubuh Golkar

Setelah Elanto, saat ini efek dari pengguna sembrono moge dalam beberapa cara waktu tanpa hambatan. Karena kedok perlindungan, jika pejabat negara yang melanggar aturan dan membahayakan pengguna jalan lain, bayar karena pajak. “Hal-hal sepele berhenti di lampu merah tidak bisa dipertahankan, adalah hal yang besar untuk menjaga?” Kata Elanto.

Rate this post

Related posts